“Biola Punya Cerita”

1

PENDAFTARAN MAHASISWA BARU

 

Jam dinding menunjukan pukul enam pagi aku segera terbangun, dan segera mandi, hari ini adalah hari dimana aku akan mendaftar sebagai mahasiswa baru, sebuah universitas yang telah aku idamkan sejak duduk dibangku SMK. Universitas Negeri Yogyakarta, iya disitulah aku akan mendaftar sebagai mahasiswa baru, sebelumnya aku seorang siswa sekolah SMK N 2 Kasihan Bantul, di sekolah kejuruan itulah aku mengambil program keahlian seni musik, seni musik seakan terdengar suatu jurusan yang asing dipilih, bahkan tidak menjadi hal yang faforit bagi para anak-anak seusiaku, kebanyakan lebih cenderung memilih keahlian yang lebih menjanjikan untuk masa depan, bicara masa depan merupakan rahasia Tuhan yang masih menjadi misteri.

Tibalah waktu pendaftaran itu, aku langkahkan kaki menuju sebuah gedung besar yang megah, sebuah gedung auditorium besar, langkah kaki ini semakin mantap, seakan aku akan memasuki sebuah arena peraduan nasib dimana semua baik buruknya akan ditentukan disini, iya peraduan nasib, sukses dan hancur adalah pilihan setiap individu masing-masing. Dan ribuan calon mahasiswa yang mendaftar hari ini adalah individu yang telah menentukan pilihannya kemana nasibnya akan dibawa. Setelah aku memasuki sebuah gedung besar itu dan mengambil nomor urut aku duduk membaur bersama calon mahasiswa yang lain. Tiba-tiba terdengar suara “ to…Yanto…to!!” aku dengar suara memanggil namaku, aku cari-cari arah suara itu dengan penasaran, siapakah orang ini yang telah mengenalku dimana di tempat ini aku belum mengenal siapa-siapa kecuali teman lama di sekolah SMK dulu. Suara itu terus memanggil, “ too too… yann too…”, dari kejauhan aku lihat seorang pemuda melambai-lambai menggunakan kertas formulir yang nantinya akan dikumpulkan sebagai tanda pendaftaran mahasiswa baru UNY.

Aku dekati orang itu, “Yanto!.. kamu juga mendaftar disini?, masih ingat pada ku?”, saat itu juga tanpa banyak berfikir aku telah mengenal orang ini. Dia adalah teman lama waktu aku duduk dibangku SMP N 1 Temanggung, dia juga berasal dari Temanggung, Brian namanya, kita terpisah semenjak lulus SMP karena aku melanjutkan belajar di Yogyakarta di SMK N 2 Kasihan Bantul. “iya..aku juga mendaftar disini..kamu juga kah? Ambil jurusan apa?”, tanyaku padanya, “aku ambil jurusan pendidikan seni musik..kamu?”, saat itu aku langsung berfikir apakah jurusan ini telah menjadi primadona, atau merupakan pilihan yang pada akhirnya menjadi pelarian, iya pelarian bagi para calon mahasiswa dimana mereka terlalu bingung dengan memilih sebuah jurusan, dan akhirnya hanya memlih jurusan seadanya yang terpenting kuliah, seolah-olah hanya untuk memberi kabar di kampung, dengan pergi ke kota dan kuliah. “Sama aku juga mengambil pendidikan seni musik!.. tidak menyangka kita akan satu sekolah lagi setelah kurang lebih tiga tahun terpisah”, jawabku padanya.

Setelah kita menyelesaikan semua abministrasi pendaftaran, aku dan brian duduk diluar gedung auditorium tempat pendaftaran tadi, sambil melepas leleh kita saling bercerita tentang musik. Kebanyakan Brian lebih banyak bertanya musik kepadaku aku, dia menganggap bahwa aku lebih mengerti tentang musik dari padanya, karena aku lulusan sebuah sekolah kejuruan seni musik. “Apakah kita harus bisa membaca not balok?”, tanya Brian pada ku, seketika itu aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah butiran-butiran hitam tersebut yang hampir mirip dengan kecambah, atau bahkan hampir mirip dengan kecebong tersebut telah membuat kepanikan pada dirinya? Maklum bagi dia istilah not balok merupakan sesuatu yang sangat asing baginya, karena dia belajar musik secara otodidak dan belum pernah belajar membaca notasi balok sebelumnya. Aku melihap dari kedua matanya bahwa Ia sedang menunggu jawaban yang sangat penting, seolah-seolah masa depannya tergantung pada jawaban dari ku. “ Iya! kita nanti akan belajar musik menggunakan notasi,  notasi balok…tetapi tenang walaupun kamu belum bisa nanti kita akan belajar bersama dari dasar” jawabku padanya. Seketika itu aku melihat harapan muncul pada dirinya, senyum kecil keluar dari bibirnya. Tidak menunggu lama Brian mengajukan pertanyaan yang kedua, “Apakah saat ujian penerimaan nanti kita harus sudah menguasai reportoar klasik yang sangat sulit itu?”. pertanyaan yang dilontarkan Brian merupakan pertanyaan yang sangat klasik, se klasik dari pertanyaannya. Aku telah banyak menjumpai pertanyaan sejenis sebelumnya, disaat dulu waktu aku masih belajar musik dari awal di bangku SMK, aku pun juga mengajukan pertenyaan tersebut kepada kakak angkatanku. Tanpa berpikir panjang pertanyaan Brian langsung aku jawab “tidak..! jangan menyerah walaoupun kamu belum bisa memainkan reportoar musik klasik yang terbilang sulit itu !, cukup dengan memainkan musik dari yang sederhana itu pun sudah sangat cukup…” jawabku padanya. Seketika itu aku lihat raut wajahnya berseri seolah-olah telah mendapat pencarahan, dan menegaskan bahwa pilihannya tidak salah, cahaya terang melingkupi wajahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

SUDUT GELAP KAMAR KOS

Semenjak berakhirnya ujian nasional di sekolahku terdahulu yaitu SMK N 2 Kasihan Bantul, aku telah lama tidak berlatih biola, kurang lebih tiga bulan, dikarenakan waktu tersebut aku gunakan untuk belajar materi ujian nasional agar aku dapat lulus dengan nilai yang baik, tetapi pada akhirnya aku hanya lulus dengan nilai yang pas-pasan, dan tidak lupa untuk mengucap syukur akan kelulusan tersebut. Biola merupakan alat musik yang nantinya akan saya pergunakan saat ujian praktek pendidikan seni musik UNY, diaman jika aku keterima nanti menjadi Mayor instrumen pokok yang aku pelajari selama menjadi Mahasiswa UNY, itu pun jika keterima, tetapi aku mempunyai keyakinan bahwa aku akan keterima, keyakinan aku perkuat dengan berdoa kepada Tuhan, aku yakin segala sesuatunya ada pada rancanganNYA.

Waktu itu pada suatu sore aku mendekati biolaku yang telah lama tak aku sentuh kurang lebih tiga bulan, aku dekati perlahan-lahan yang aku letakkan disudut gelap kamar kos. Langkah demi langkah semakin mendekat, entah kenapa rasa takut mulai muncul dalam diri ini. Takut jika ia marah telah aku abaikan, takut jika ia tidak mau lagi bersamaku, takut jika ia tak lagi menyuguhkan melodi-melodi indahnya lagi, “ah ia hanya sebuah biola” kataku dalam hati. Aku raih biola tersebut dari sudut gelap kamar kos, perlahan-lahan aku buka casenya, aku dapati benda berwana coklat penuh debu, aku usap perlahan seluruh badannya hingga mengkilap sampai aku melihat wajahku sendiri pada badan biola tersebut, seakan biola tersebut menunjukkan inilah orang yang telah membiarkannya membatu disudut kamar. Biola ini terlah menjadi bagian dalam hidupku menyatu dalam jiwa, ia telah menemani dari aku belum mengenalnya, iya, dari aku belum dapat memainkannya sampai sekarang aku telah dapat merangkai melodi sederhana darinya.

Aku menala keempat senarnya, urut satu persatu sehingga semuanya senarnya masing-masing bernada E, A, D, G. Kini ia dapat menyuguhkan melodi-melodi indahnya lagi. Aku mencoba memainkan tangga nada G Mayor, tangga nada yang paling mudah untuk instrumen biola. Pertama aku merasakan seluruh jari ini kaku, ini karena aku telah cukup lama tidak berlatih, tetapi tetap aku coba sedikit demi sedikit dari pelan sampai jari-jemari ini mulai terbiasa lagi, dan sampai akhirnya aku dapat memainkan tangga nada G Mayor secara utuh. Untuk menyiapkan ujian praktek masuk UNY pendidikan seni musik aku harus menyiapkan satu reportoar musik, aku mulai bingung memilih reportoar yang tepat untuk aku mainkan, mengingat aku cukup lama tidak berlatih. Aku buka buku-buku daftar reportoar musik yang aku punya, dan semuanya pernah aku mainkan. Saat ku lihat dari judul ke judul aku merasa semuanya asing bagiku, rasa sulit menyelimuti dalam diri. Rasa panik mulai menjalar dalam tubuh ketika tanggal ujian masuk semakin dekat, tiba-tiba mata tertuju pada subuah judul dalam buku daftar reportoar hasil koleksiku, aku mulai teringat bahwa judul itu terakhir kali aku mainkan ketika uji kompetensi saat di sekolah kejuruan, walaupun begitu tetap aku merasa kesulitan, setidaknya itu terakhir aku mainkan, jadi aku yakin akan cepat menguasainya, fourth pupil’s concerto Op. 15 karya dari Friedrich Seitz.

Aku mulai fokus melatihnya lagi, setiap pagi aku memainkannya, walaupun sedikit kaku jari-jemari ini, tetapi aku tetap tekun meltihnya. Pada akhirnya tibalah hari yang ditunggu itu, ujian praktek masuk pendidikan seni musik UNY. Pagi-pagi sekali aku berangkat menggunakan sepeda tua ku, menembus dinginnya pagi yang seakan enggan berpaling dari tubuhku, setibanya di kampus pendidikan seni musik UNY, aku mulai membuka biolaku dari casenya, mencoba untuk melakukan pemanasan penjarian dengan memainkan tangga nada G Mayor. Hawa dingin pagi hari yang masih terasa membuat kaku penjarian-penjarian ku, serasa hawa dingin telah membekukannya. Suara berbagai macam alat musik dari para calon mahasiswa baru bermain bersama sambil menunggu giliran ujian, suara-suara gitar, biola, cello, trompet, perkusi, piano. Semua serentak berbunyi bersama melakukan pemanasan, cikup gaduh memang seakan-akan seperti symphony yang mengelegar mengalirkan melodi-melodi yang indah. Tetapi yang aku dengar ini berbeda dari symphony pada umumnya, semua berbunyi tanpa terkonsep, seolah-olah merupakan suatu komposisi baru yang tidak aku ketahui sebelumnya, meriuh-riuh ditangkap oleh telinga dan mengalir ke dalam otak, dan sekarang tertanam disana, ah sial aku tidak bisa konsentrasi dengan permainanku sendiri. aku tenggelam dan hanyut dalam symphony gaduh.

Dari keriuhan suara berbagai macam instrumen, terdengar suara memanggil namaku, “yanto..yanto!”, aku kenal suara ini, iya dialah Brian teman lama yang tempo hari bertemu di auditorium. Sambil membawa gitar dia mengahampiriku, dibelakangnya tiga orang mengkitunya, sejenak aku berpikir dan mengingat-ingat tiga orang dibelakang Brian, sepertinya aku tidak asing dengan orang tersebut, mungkin aku telah mengenalnya cukup lama entah dimana. “Bagaimana Yanto sudah siapkah mengikuti ujian masuk? Oh iya !, masihkah kamu mengenal tiga orang ini?” kata Brian padaku sambil menjabat tanganku dan juga tiga orang dibelakang Brian. “Siap..setiap pagi aku telah berlatih, selanjutnya berdoa, biar Tuhan yang menunjukkan jawabannya, setidanya aku telah berusaha”, jawabku kepada Brian. Seketika itu Aku terdiam dan berpikir sejenak dalam-dalam mencoba mengingatnya, sepertinya aku telah lama mengenal tiga orang bersama Brian itu. Tiba-tiba saja tiga orang itu langsung menyapaku, “halo..Yanto apa kabar”, sapaan itu secara tidak langsung menegaskan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya. Tiga orang itu memperkenalkan dirinya masing-masing, susatyo, adrie, dan bagas. “kita teman waktu kita masih di SMP N 1 Temanggung” kata mereka, aku langsung teringat dan merasa payah, betapa aku mudah sekali melupakan teman yang dulu bisa dibilang akrab, dulu kita selalu bersama-sama, berdiskusi musik bersama-sama.

Susatyo, dia teman waktu masih di SMP, sebetulnya aku dan dia baru mengenal sebentar tetapi kita sudah cukup akrab. Aku mulai mengenal susatyo ketika duduk di bangku kelas tiga SMP, orang berambut ikal dan berbadan tinggi itu memang pintar dalam bermusik, Ia selalu juara dalam mengikuti festival musik yang diselenggarakan, waktu itu tingkat kabupaten. Dia pintar bermain gitar, saat aku dan dia berjumpa, ia juga memberi tahukan bahwa ia juga mengambil intrumen gitar. Sungguh kecintaannya pada gitar sudah tidak dapat dipisahkan lagi, dia dan gitar bagaikan pasangan kekasih sehidup semati. Sedangkan Adrie, orang berkacamata dan rambut belah pinggir itu, tak ku sangka dia mengambil jurusan pendidikan seni musik, kerana selama kita duduk di bangku SMP, aku melihatnya tidak ada minat atau bahkan perhatiannya terhadap musik, tetapi itu semua dulu, orang mempunyai tujuan dan minatnya sendiri-sendiri, mau dibawa kemana arah jalan hidupnya, dia mengambil instrumen perkusi. Sedangkan bagas, orang yang bertubuh subur itu aku telah mengenalnya cukup lama, kita sudah bersama-sama waktu di SMP dari kelas satu sampai tiga. Dia sama dengan Adrie, minat dan perhatiaannya terhadap musik kurang terlihat waktu di SMP, dia mengambil instrumen piano.

Setelah kita saling menyapa, saat itu juga kita langsung berpisah menuju ruang masing-masing pelaksanaan ujian masuk. Aku perhatikan, mereka antusias dan bersemangat melanjutkan studi pendidikan seni musik UNY, “semoga kalian ketrima kawan,” doaku dalam hati. Biola langsung aku rapikan dan masukkan ke casenya, aku segera bergegas menuju ruangan yang menjadi tempat ujianku sendiri, dan mengantri sesui nomor urut ujian masuk. aku perhatikan sekelilingku, mebaur bersama calon-calon mahasiswa seni musik UNY.  Antusias, gelisah, cemas, biasa-biasa saja, aku lihat pada raut wajah masing-masing dari mereka. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang lelaki dengan rambut kepala setengah gundul, yang duduk di bangku paling awal, sepertinya sebentar lagi gilirannya masuk ruang ujian, pandangan matanya sangat polos, sesaat dia memandang padaku dengan melihat instrumen yang aku bawa, seolah dia penasaran dengan apa yang aku bawa, mungkin dia belum pernah melihat benda seperti ini sebelumnya, maklum saja biola yang aku bawa aku masukkan kedalam case berbentuk kotak, mungkin dia mengira aku bawa keyboard, tetapi ukurannya yang terlalu kecil, atau mungkin dia mengira aku bawa ukulele, tetapi ukuran case biolaku lebih besar dari ukulele. Ah entahlah, aku lihat pada dirinya rasa penasaran yang amat dalam dengan instrumen yang aku bawa.

Pintu ruang ujian terbuka, munculah seorang perempuan sedikit tua berkacamata dengan rambutnya yang sedikit memutih. Dengan suara yang keras dia memanggil seseorang, “Hadi…Hadi dengan instrumen gitar,” ternyata orang yang menatapku dengan pandangan polos itu langsung berdiri dan memasuki ruang ujian, ternyata dia bernama Hadi, kini Ia memasuki ruang kekecewaan atau bahkan menjadi ruang sejarah yang penuh kenangan. Ya ruang kekecewaan jika ia tidak dapat memainkan instrumennya dengan baik yang akhirnya memberikan kesan jelek dihadapan dewan juri, dan pada akhirnya tidak diterima di UNY, atau menjadi ruang sejarah yang penuh kenangan dimana permainannya mendapat sanjungan oleh dewan juri, yang pada akhirnya kemungkinan diterima di UNY.

Setelah mununggu akhirnya tibahlah giliranku untuk memasuki ruang tempat ujian, lagi-lagi seorang perumpuan tua keluar dan memanggil. “yanto..dengan instrumen biola,” dengan memantapkan hati, aku raih biolaku dan melangkah menuju ruang ujian, sedikit melirik ke hadapan hadi, lagi-lagi ia penasaran dengan apa yang aku bawa, pandangan matanya polos dan entah apa yang ia pikirkan. Langkah kakiku menuju ruang ujian itu, rasa gugup mulai terasa dalam tubuh dan entah apa yang terjadi didalam sana nanti. Dalam ruangan aku dapati satu juri, tetapi beliau adalah seorang dosen di jurusan pendidikan seni musik UNY. Pria berkacamata, dan berkumis agak tipis itu masih keliatan muda, tetapi entah kenapa nyaliku menciut melihatnya. Didepan mejanya bertuliskan namanya yang diketik dengan ukuran yang besar “Warta, S.Sn.,M.A. mungkin berderet-deret gelar itulah yang nyaliku terasa menciut. “Selamat datang,” Ia menyambut kedatanganku, aku pikir bahwa pertarungan segera dimulai. Segera aku jawab “selamat pagi Bapak.”

“Nama Yanto, asal sekolah SMK N 2 Kasihan Bantul, instrumen Biola, ok..langsung saja kamu mau memainkan reportoar apa?,” dengan penuh rasa percaya diri walaupun sedikit gugup, aku jawab “fourth pupil’s concerto Op. 15 karya dari Friedrich Seitz, “silakan” jawab Beliau. Sebelum aku memainkannya aku berpura-bura menala biolaku, padahal sebelumnya sudah aku tala diluar sebelum memasuki ruangan ini, tetapi tak apalah, aku hanya mencoba menghilangkan rasa gugup ini dan mencairkan suasana. Mulailah aku memainkannya, aku gesek bow pada senar biola mengambil nada pertama, aku menikmati permainanku dan aku melirik pada bapak Warta, matanya terpejam, mungkin Beliau sedang menikmati permainanku. Tiba-tiba ketika memasuki nada-nada dengan tempo yang cepat aku merasakan suatu pada jari-jemariku, aku merasakan kaku, aku mulai gugup, tegang, dan keringat mengalir deras keluar dari eajah, permainanku mulai seperti orang baru pertama kali berlatih biola. Aku melihat reaksi bapak Warta, beliau masih memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara darinya “cukup,” suara tidak terlalu keras tetapi lembut seperti suarang dalam sebuah cafe, dengan pelayan sedang menuangkan minumas jus jeruk dan Ia bilang “cukup”.

“ok… sudah selesai.. tunggu hasil pengumuman ya,” tanya Beliau kepadaku, aku hanya sekedar menganggukkan kepala sambil berjalan keluar ruangan, lagi-lagi aku melihat orang dengan pandangan kosong menatap pada mata ku, namun ini bukan Hadi tetapi wanita tua yang dari tadi memanggil satu persatu peserta ujian, Ia membukakan pintu untuk aku keluar. Setelah ujian dalam perjalanan pulang, aku merasakan ketidaktenangan dalam diri, aku tidak tenang karena permainanku jyang bisa dibilang buruk saat ujian. Kini aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, dan semoga Tuhan menjawab doaku agar aku diterima di pendidikan seni musik UNY.    

3

 

Dalam tidur, bangun, melakukan aktifitas semua serba tak nyaman, kini aku merasakan gelisah, aku masih teringat ujian praktek ku dihadapan dosen penguji, betapa aku bermain biola  tidak seperti biasanya, aku seperti orang yang baru belajar biola kemarin sore, atau bahkan tiga jam sebelum pelaksanan ujian. Jari-jemari yang kaku tersebut, “ah sudahlah, tak ada gunanya menyesalinya, apa dengan menyesalinya aku bisa kembali ke waktu lampau untuk kembali melakukan ujian praktek,” kini aku bergegas pergi, ada janji dengan Susatyo, Brian, adrie, dan Bagas untuk bertemu di halaman rektorat UNY, halaman rektorat merupakan tongkrongan paling nyaman yang kami tahu, karena memang itulah tempat yang baru kami tahu di Yogyakarta sebagai orang pendatang dengan tujuan untuk berkuliah.

Sesampainya di halaman rektorat yang rindang dan hijau, sejenak melupakan kesalahan saat ujian prektek tempo hari, udara segar aku hirup dalam-dalam, mengalir keseluruh tubuh, menyapu kotoran-kotoran ingatan kejadian ujian praktek, keluar tubuh dan terhempas angin jauh, dan jangan kembali. Aku melihat mereka sudah menungguku di bundaran air mancur depan rektorat, mereka duduk lesehan sambil menikmati suasana senja, langit yang menguning yang memberikan warna pada langit. “hai..Yantu..kita disini,” Susatyo memanggilku, lekas aku hampiri mereka. Tetapi aku heran melihat wajah teman-temanku ini, sedikitpun aku tak melihat rasa was-was, atau rasa kalo-kalo tidak diterima di kampus ini. Ya begitulah watak teman-temanku yang selalu aku rindukun ini, selalu tenang dan menyoba bersikap santai, aku telah mengenalnya dari SMP dulu, tetapi yang aku herankan, semua pekerjaan atau masalah yang mereka hadapi selalu selesai tanpa halangan suatu apapun, walaupun prosesnya selalu tergesa-gesa dan cenderung kelihatan dipaksakan, ya maklum, namanya juga santai, teman-temanku yang selalu aku rindukan.

“Bagaimana ujian kalian?” tanyaku kepada Susatyo, Adrie, dan Bagas. “kami melakukan sesuai perintah yang diberikan oleh dosen penguji kawan!, jadi kita tinggal menunggu aja pengumannya,” jawab Adrie sambil membetulkan kaca matanya yang turun. Tidak ada rasa keraguan dalam diri mereka, justru rasa optimis secara tidak langsung terpancar dalam diri mereka, seolah kegagalan tidak pernah ada dalam kamus dalam diri mereka, dalam hatiku mungkin teman-temanku ini merupakan orang yang beruntung, dibalik sikap yang optimis dan pasti berhasil, mereka pada kenyataannya tek pernah gagal, semoga penguman yang akan dilihat besok sesuai dengan sesuai dengan jalan pikiran mereka.

“BERSAMBUNG…”      

 

 

   

 

 

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s