Kesenian Gamelan Jawa

Bagi masyarakat jawa pada khususnya sudah tidak asing lagi dengan gamelan karena bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan kesehariaannya. Masyarakat tahu benar mengenai gamelan atau seperangkat gamelan, dan kebanyakan telah mengenal istilah gamelan, karawitan, atau gangsa. Namun kebanyak belum mengetahui tengtang sejarah dan perkembangan gamelan, dan banyak belum mengetahui sejak kapan gamelan tersebut ada di jawa.

Seorang sarjana berkebangsaan Belanda yang bernama Dr. J.L.A. Brandes mengungkapkan secara teoritis bahwa jauh sebelum datangnya pengaruh India, bangsa Jawa telah mempunyai keterampilan budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir (Brandes, 1889). Sepuluh itu adalah:

  1. Wayang.
  2. Gamelan.
  3. Ilmu irama sanjak.
  4. Batik.
  5. Pengerjaan logam.
  6. Sistem mata uang sendiri.
  7. Ilmu teknologi pelayaran.
  8. Astronomi.
  9. Pertanian sawah.
  10. Birokrasi pemerintahan yang teratur.

 

Gamelan merupakan produk budaya yang berasal dari jawa. kesenian merupakan unsur budaya yang keduannya merupakan saling terkait dengan yang lainnya, dimana masyarakat yang mempunyai kebudayaan akan lahir kesenian-kesenian yang muncul, dan gamelan merupakan hasil dari kebudayaan jawa. gamelan pada saat ini tidak hanya dikenal di Indonesia saja, melainkan sudah berkembang di berbagai negara diantaranya diAmerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Canada. Karena itu sungguh ironis jika Indonesia khususnya jawa sebagai pewaris langsung tidak peduli bahkan manganggapnya kuno. Jika ini dibiarkan begitu saja, gamelan yang merupakan kebudayaan jawa akan hilang atau bahkan musnah, mengingat negara lain begitu gencar-gencarnya mempelajari gamelan jawa, bahkan di negara lain memiliki seperangkat gamelan jawa. sudah waktunya untuk peduli budaya dan kesenian bangsa khususnya gamelan.

Kebudayaan jawa setelah masa prasejarah memasuki era baru yaitu suatu masa ketika kebudayaan dari luar dalam hal ini kebudayaan Inda mulai berpengaruh. Kebudayaan Jawa mulai memasuki jaman sejarah yang ditandai dengan adanya sistem tulisan dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari perspektif historis selama kurun waktu antara abad VIll sampai abad XV Masehi kebudayaan Jawa, mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India. Tampaknya unsur-unsur budaya India juga dapat dilihat pada kesenian seperti gamelan dan seni tari. Transformasi budaya musik ke Jawa melalui jalur agama Hindu-Budha.

  1. A.      

                       

 

Gamelan diperkirakan ada sejak abad 7, keberadaanya diketahui melalui bukti-bukti berupa prasasti, dan kitab-kitab kesustraan yang berasal dari masa Hindu Budha. Bukti-bukti kebradaan gamelan dimasa lampau juga terpahat di relief berbagai candi,  baik pada candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Tengah (abad ke-7 sampai abad ke-10) dan candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Timur yang lebih muda (abad ke-11 sampai abad ke-15) (Haryono, 1985). Pada beberapa bagian di dinding candi Borobudur dapat dilihat jelas jenis-jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada candi Lara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal, dan suling. Berdasarkan data-data yang

masyarakat jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya. Pada masyarakat jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral, dan spiritual. Gamelan mempunyai keagungan tersendiri, buktinya bahwa dunia internasional bahwa gamelan alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik barat. Pada masa sekarang ini ada kecenderungan perbedaan persepsi yang dilakukan kaum muda melalui berbagai atraksi kebudayaan yang pada segi-segi lain kelihatan agak menonjol, tetapi ditinjau dari segi yang lain lagi merupakan kemunduran, terutama yang menyangkut gerak-gerak tari dan penyuguhan gendhing-gendhing yang dikeluarkan. Anak-anak muda kebanyakan tidak tertarik dengan gamelan karena tidak ada yang mengenalkannya atau mengajarkannya. Dan itu tidak dapat dipersalahkan karena kebanyak orang tua, lingkungan sekolah tidak mendukung anak mengenal gamelan. Maka dari itu perlu adanya dukungan pemerintah untuk mengenalkan gamelan kepada kaum muda, mengadakan fesetival gamelan, atau bahkan dengan cara memasukannya ke dalam kurikulum pendidikan. diperoleh pada relief dan kitab-kitab kesusastraan diperoleh petunjuk paling tidak ada pengaruh India terhadap beberapa jenis gamelan jawa.

Gamelan yang lengkap kira-kira mempunyai 72 alat dan dapat dimainkan oleh niyaga (penabuh) dengan disertai 10-15  pesinden dan atau gerong.  Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam. Alat-alat lainnya berupa kendang, rebab (alat gesek), gambang yaitu sejenis xylophon dengan bilah-bilahnya dari kayu, dan alat berdawai kawat yang dipetik bernama siter atau celepung. Gamelan jawa mendapat tanggapan yang luar biasa di dunia internasional. Saat ini sudah banyak pentas seni gamelan di berbagai negara eropa dan memperolah tanggapan yang luar biasa. Bahkan sekolah-sekolah di luar negeri yang memasukan seni gamelan sebagai salah satu musik pilihan untuk dipelajari oleh para pelajarnya juga tidak sedikit. Ini berbanding terbalik dengan yang ada di Indonesi, masih banyak yang menyangsikan masa depan gamelan. Terutama pada kaum muda yang lebih tertarik dengan musik dari luar yang memiliki instrumen yang canggih. Diperlukan suatu upaya untuk menarik minat masyarakat akan kesenian tradisional yang menjadi warisan budaya tersebut.

Fungsi sosial gamelan jawa secara filosofis gamelan jawa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat jawa. ini disebabkan filsafat hidup

Berikut adalah nama nada-nada yang dipakai dalam musik gamelan.

  • Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu : 1 2      3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.
  • Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu : 1 2      3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

 

Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yang terdiri beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Dalam masyarakat Jawa, orkestra musik Gamelan biasanya disebut “Karawitan”. Berasal dari kata “rawit” yang berarti rumit, halus, kecil. Disebut demikian karena memainkan karawitan tidak sekedar berfokus pada bunyi yang dihasilkan oleh alat msuik, tetapi juga harus dapat memahami kedalaman makna dari musik yang sedang dimainkan tersebut. mengingat bahwa semua gendhing yang diciptakan berkorelasi dengan kehidupan manusia sehari-hari. misalnya: ada Gendhing yang merujuk pada keselamatan, ucapan syukur, permintaan, permohonan, dan sebagainya. Dengan memahami kedalaman tersebut maka sang pemain Gamelan dituntut untuk tidak memainkan alat-alat musik sekehendak hatinya, tetapi selalu berdasarkan konteks yang ada. Seperangkat Gamelan biasanya terdiri dari beberapa alat musik. Dalam sebuah Karawitan biasanya terdapat minimal 15 instrumen yang berbeda. Alat-alat musik tersebut ada yang terbuat dari logam, besi, perunggu, kayu, bambu, dan kulit binatang. Pada umumnya alat-alat musik yang terdapat dalam perangkat gamelan terdiri dari:

1)   Counter-Melody, adalah alat-alat musik yang terdiri atas:

i)        Gambang adalah alat yang menyerupai instrumen metallophone, tetapi bilah-bilahnya dari kayu dan tembaga.

 

 

ii)      Suling alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Suling ini dibedakan menjadi dua tipe yaitu suling dengan lima lubang (finger-holes) untuk laras pelog dan suling dengan empat lubang untuk laras slendro.

 

iii)    Rebab alat musik gesek yang dapat menghasilkan suara cukup keras.

 

 

 

 

2)      Drum

i)        Bedug alat musik tabuh yang terbuat dari sepotong batang kayu besar yang telah dilubangi bagian tengahnya sehingga menyerupai tabung besar. Pada ujing-ujung bedug tersebut diyutup dengan kulit binatang (biasanya kulit sapi, kerbau atau kambing). Bedug jika dipukul akan menimbulkan suara berat, rendah, tetapi dapat didengar sampai jarak yang jauh.

 

                 

ii)      Kendang merupakan alat musik tabuh menyerupai bedug tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil. Kendang ini biasanya dimainkan oleh pemain gamelan profesional. Kendang dapat dibagi menjadi empat berdasarkan ukuran dari yang terbesar sampai yang terkecil: kendang gending, kendang wayangan, kendang ciblon, dan kendang ketipung.

 

 

 

 

3)      Gong, terdiri dari:

i)        Gong ageng, adalah gong yang terbesar dalam gamelan jawa dan biasanya ditempatkan di belakang gamelan.

 

 

 

ii)      Kempul adalah gong gantung yang memiliki ukuran yang lebih kecil dari gong ageng.

 

 

 

 

4)      Bonang adalah satu set gong yang terdiri dari sepuluh sampai empat belas gong-gong kecil dengan posisi hurizontal. Ada dua macam bonang yaitu:

i)        Bonang burung yaitu bonang berukuran sedang, beroktaf tengah sampai tinggi.

 

 

ii)      Bonang penerus, bonang yang berukuran kecil tetapi titi nadanya lebih tinggi satu oktaf dari bonang burung.

 

Bonang termasuk alat musik idiophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya adaah alat musik itu sendiri. bonang dimainkan dengan cara dipukul pada bagian pencu dari setiap penconya menggunakan dua tebuh yang dipegang dengan tangan kanan dan tangan kiri.

 

 

 

 

 

 

5)      Kenong adalah gong terbesar yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkai kayu, satu bingkai kayu dapat berisi tiga kenang.

 

 

 

6)      Ketuk dan kempyang adalah gong-gong yang diletakkan di sebelah kenong. Ketuk dan kempyang selalu ditempatkan dalam sebuah kotak kayu.

 

 

 

 

 

7)      Metallophonis adalah alat-alat musik berbentuk bilahan/ lempengan yang terdiri dari enam atau tujuh bilah, ditumpangkan pada bingkai kayu yang berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

i)        Saron dumung adalah alat musik dengan bilahan paling besar dalam keluarga saron dan menghasilkan nada rendah. Titi nada saron dumung lebih rendah satu oktaf dibanding saron barung. Ada dua tipe saron demung, yaitu: dumung slendro dan demung pelog.

ii)      Saron burung memiliki bilahan logam menengah (medium). Titi nadanya satu oktaf lebih rendah dari saron penerus dan satu oktaf lebih tinggi dari saron demung. Saron burung dibedakan menjadi dua tipe yaitu: Burung slendro dan burung pelog.

iii)    Saron penerus atau seringkali disebut dengan julukan peking, merupakan saron yang paling kecil. Dibandingkan saron burung, saron penerus memiliki titi nada lebih tinggi satu oktaf. Saron burung dibedakan menjadi dua tipe yaitu penerus slendro dan penerus pelog.

 

Saron termasuk dalam kelompok musik idiophone yaitu sumber suaranya berasal dari badan alat musik itu sendiri. cara membunyikannya dengan cara dipukul pada bagian tengah bilah-bilahnya menggunakan tabuh.

 

 

 

 

8)      Slenthem termasuk dalam kelompok alat musik idiophone, sumber suara pada ricikan slenthem berupa bilah-bilah logam, cara membunyikannya dengan cara dipukul pada bagian tengah bilah-bilahnya menggunakan satu tabuh.

 

                  

 

9)   Gender, sumber suara dan cara membunyikan gender:

      Gender merupakan salah satu kelompok alat music idiophone,yaitu alat music yang sumber  suaranya adalah badan dari alat music itu sendiri(bilah logam).adapun cara membunyikan ricikan gender adalah dengan dipukul pada bagian tengah permukaan bilah bilahnya menggunakan dua  tabuh yang dipegang dengan tangan kanan dan tangan kiri. terdiri atas:

  • Gender Barung. Gender Barung memiliki bilah metal dengan ukuran sedang dalam keluarga Gender. Gender Barung memiliki titi nada satu oktaf lebih rendah dari Gender Panerus.
  • gender Panerus. Gender Panerus memiliki bilah-bilah yang paling kecil dalam keluarga Gender. Gender Panerus memiliki titi nada satu oktaf lebih tinggi daripada Gender Barung.

 

 

 

 kesumpulan

Begitu banyak alat-alat musik di dalam gamelan, yang merupakan budaya asli Indonesia khususnya jawa. mengingat diakuinya gamelan sebagai warisan budaya, dan semakin banyak masyarakat internasional mencoba untuk mempelajarinya, seharusnya kita sebagai warga negara yang cinta akan budayanya harus lebih menaruh perhatian dan ikut melestarikan gamelan, mengingat semakin sedikit peminatnya. Agar gamelan tetap lestari dan tidak hilang ditelan jaman.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s